Yogyakarta, Nabawi Mulia – Gelar Haji telah menjadi hal yang sangat dikenal di Indonesia dan seringkali digunakan sebagai nama depan oleh sebagian besar masyarakat Indonesia.

Namun, sebagian orang mungkin tidak tahu tentang asal-usul dari penggunaan gelar haji sebagai nama depan.

Awal Mula Penggunaan Gelar Haji di Indonesia

Kebiasaan menggunakan gelar haji sebagai nama depan di Indonesia ternyata sudah sejak zaman penjajahan Belanda.

Menurut sejarah, kebiasaan ini muncul karena adanya perlawanan umat Islam di Nusantara pada waktu itu yang selalu dipimpin oleh guru, ulama, dan haji.

Hal ini membuat kolonial Belanda pada waktu itu merasa khawatir karena setiap pulang dari Makkah, warga pribumi seringkali melakukan pemberontakan.

 

Untuk memudahkan pengawasan, Belanda akhirnya mengeluarkan keputusan Ordonansi Haji pada tahun 1916 yang mewajibkan setiap orang yang pulang dari ibadah haji untuk menggunakan gelar “Haji” di depan namanya.

Namun, sebelum kebijakan tersebut diterapkan, orang Indonesia yang melakukan ibadah haji tidak dipanggil dengan gelar haji.

Bahkan, pahlawan besar sekalipun seperti Pangeran Diponegoro atau Cut Nyak Dien tidak dipanggil dengan Haji Diponegoro begitu juga dengan Cut Nyak Dien.

Saat ini, kebiasaan menggunakan gelar “Haji” atau “Hajjah” sebagai nama depan masih tetap dipertahankan oleh sebagian masyarakat Indonesia.

Banyak yang sengaja menuliskan gelar haji dalam dokumen kependudukan seperti KTP, KK, dan SIM.

 

Meskipun begitu, beberapa masyarakat juga memilih untuk tidak menggunakan gelar haji sebagai nama depan mereka.

Antropolog UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, Dadi Darmadi, mengatakan bahwa tradisi penggunaan gelar haji sebagai nama depan sebetulnya tidak hanya terjadi di Indonesia.

Akan tetapi, negara tetangga seperti Malaysia, Singapura, Brunei, dan bahkan Thailand Selatan juga menggunakan tradisi ini.

“Tradisi di Mesir Utara bahkan bukan hanya memberi gelar haji, tapi juga melukis rumahnya dengan gambar Ka’bah dan moda transportasi yang digunakan ke Makkah,” ujarnya dikutip dari Kementerian Agama, Rabu (29/3/2023).

Tentunya tradisi menyematkan gelar haji sebagai nama depan ini jangan sampai merusak keikhlasan berhaji seorang muslim.

× Available on SundayMondayTuesdayWednesdayThursdayFridaySaturday